Bagaimana asal-usul Banyuwangi? Kalau jawaban yang anda harapkan adalah rujukan sejarah, yang akan anda temui hanyalah rasa frustasi. Tak ada rujukan tertulis dalam laporan resmi Belanda (misalnya dari regent Banyuwangi ke gubernur jenderal di Batavia) atau catatan pribadi tentara Belanda atau tentara Inggris (yang juga pernah menduduki Banyuwangi).
Asal-usul Banyuwangi hanya hidup dalam legenda. Legenda, suka atau tidak suka, adalah sebuah cerita fiksi. Bagaimana mungkin seorang manusia, mengawini seorang bidadari yang lantas melahirkan Sri Tanjung? Sidhapeksa juga keturunan Pandawa. Jadi boleh dibilang ini cerita berbingkai. Menggabungkan cerita pewayangan dengan cerita (fiksi) yang melibatkan tokoh manusia. Meskipun di Banyuwangi sendiri, ada orang-orang yang yakin ada sumur di desa Temenggungan yang merupakan tempat tertumpahnya darah Sri Tanjung, sehingga pada waktu-waktu tertentu airnya berbau wangi sampai sekarang.
Kalau anda bertanya kisah fiksinya, anda perlu belajar dari Cak Lontong, untuk mencoba menggali dari orang sekitar. Adakan survey, bagaimana cerita Sri Tanjung - Sidhapeksa? Bagaimana dengan versi yang muncul dalam drama rakyat? Bagaimana yang keluar dalam buku cerita anak-anak? Saya yakin, 99 persen, ceritanya berhenti sampai air sungai semerbak mewangi setelah Sri Tanjung dibunuh oleh Sidhapeksa. Sementara yang 1 persen? Mereka mempercayai apa yang dikatakan 99 persen orang yang disurvey.
Padahal dalam serat aslinya (paling tidak yang saya dapat copy-nya tulisan orang Lugonto Rogojampi ditulis dalam huruf arab pegon, selesai ditulis tahun 1896 masehi), cerita Sri Tanjung adalah sebuah cerita happy ending. Sri Tanjung, anak bidadari yang kawin dengan manusia, disunting oleh patih Sidhapeksa, yang keturunan dari Pandawa.
Sri Tanjung mewarisi sebuah selendang yang bisa membuat orang yang memakainya terbang ke kahyangan tempat tinggal para dewa. Parasnya yang cantik membuat raja Sindureja, Sulakrama, jatuh cinta dan ingin merebutnya dari patihnya. Akhirnya, Sidhapeksa diberi tugas yang sulit untuk mencari emas tiga gelung yang adanya hanya di kahyangan. Dengan bantuan selendang isterinya, dia bisa ke kahyangan dan mengobrak-abrik isinya. Sampai akhirnya dia dikeroyok oleh para dewa, dan ternyata dia tidak jadi dibunuh karena dia mengaku sebagai suaminya Sri Tanjung dan merupakan keturunan Pandawa.
Pada saat suaminya pergi, Sri Tanjung didatangi oleh Raja Sulakrama. Tetapi Sri Tanjung menolak segala keinginan raja.
Setelah turun ke bumi dan menghadap raja, Sidhapeksa dapat berita miring dari raja, bahwa Sri Tanjung mengajaknya serong. Sidhapeksa akhirnya marah pada Sri Tanjung dan membunuhnya.
Dari sini semua sudah tahu karena tidak bersalah air sungai menjadi wangi dan ini menjadi asal-usul Banyuwangi.
[caption id="" align="aligncenter" width="1000"]
ilustrasi Sri Tanjung dibunuh oleh Sidapaksa via kabarbanyuwangi.com[/caption]
Sementara Sidhapeksa menyesali perbuatannya, Sri Tanjung dihidupkan lagi oleh ibunya dan dikirim ke kakeknya. Di sana ia bertemu suaminya lagi. Dan pertemuan membahagiakan ini dirayakan dengan suka cita (yang dalam versi Lugonto, mereka nanggap ludruk, gandrung pria Marsan, dan wayang).
Mestinya mulai sekarang Legenda Sri Tanjung Sidapeksa harus dikembalikan kepada pakemnya. Yang happy ending. Pakem asli itu memberi banyak pelajaran. Selain happy ending (penonton/pembaca selalu menyukai happy ending), juga memberi kesempatan kedua kepada orang yang melakukan kesalahan, dan tidak melulu hanya cerita kejam suami yang menghabisi isterinya. Tapi juga ada cerita cinta, dan akhir yang membahagiakan untuk seorang istri yang menjaga kehormatan untuk suaminya.
Kalau ceritanya dipotong hanya sampai Sri Tanjung mati, seakan-akan memberi pelajaran sebuah kesia-siaan untuk sebuah perbuatan baik. Ini fiksi sehingga harus ada pelajaran baik di situ.
Ceritanya adalah sebagai berikut. Kisah diawali dengan menceritakan tentang seorang ksatria yang tampan dan gagah perkasa bernama Raden Sidapaksa yang merupakan keturunan keluarga pandawa.Ia mengabdi kepada raja sulakarma yang berkuasa di negeri Sindurejo. Sidapaksa diutus mencari obat oleh raja kepada kakeknya Bhagawan Tamba Petra yang bertapa di pegunungan. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat ayu bernama Sri Tanjung. Sri Tanjung bukan gadis biasa,karena ibunya bidadari yang turun ke bumi dan diperistri seorang manusia.
Karena itulah Sri Tanjung memiliki paras yang luar biasa cantik jelita. Raden Sidapaksa jatuh hati dan menjalin cinta dengan Sri Tanjung yang kemudian dinikahinya. Setelah menjadi istrinya, Sri Tanjung diboyong ke Kerajaan Sindurejo. Raja Sulakrama diam-diam terpesona dan tergila-gila akan kecantikan Sri Tanjung. Sang Raja menyimpan hasrat untuk merebut Sri Tanjung dari tangan suaminya, sehingga ia mencari siasat agar dapat memisahkan Sri Tanjung dari Sidapaksa.
Lantas Sidapaksa diutus oleh Raja Sulakrama pergi ke Swargaloka dengan membawa surat yang isinya “Pembawa surat ini akan menyerang Swargaloka". Atas bantuan Sri Tanjung yang menerima warisan selendang ajaib peninggalan ibunya dari ayahnya, Raden Sudamala, Sidapaksa dapat terbang ke Swargaloka. Setibanya di Swargaloka, Sidapaksa yang tidak mengetahui apa isi surat itu menyerahkan surat itu kepada para dewa. Akibatnya dia dihajar dan dipukuli oleh para dewa. Namun akhirnya, dengan menyebut leluhurnya adalah Pandawa, maka jelaslah kesalahpahaman itu. Raden Sidapaksa kemudian dibebaskan dan diberi berkah oleh para dewa.
Sementara itu di bumi, sepeninggal Sidapaksa, Sri Tanjung digoda oleh Raja Sulakrama. Sri Tanjung menolak, namun Sulakrama memaksa, memeluk Sri Tanjung, dan hendak memperkosanya. Mendadak datang Sidapaksa yang menyaksikan istrinya berpelukan dengan sang Raja. Raja Sulakrama yang jahat dan licik, malah balik memfitnah Sri Tanjung dengan menuduhnya sebagai wanita sundal penggoda yang mengajaknya untuk berbuat zina.
Sidapaksa termakan hasutan sang Raja dan mengira istrinya telah berselingkuh, sehingga ia terbakar amarah dan kecemburuan. Sri Tanjung memohon kepada suaminya agar percaya bahwa ia tak berdosa dan selalu setia. Dengan penuh kesedihan Sri Tanjung bersumpah apabila dirinya sampai dibunuh, jika yang keluar bukan darah, melainkan air yang harum, maka itu merupakan bukti bahwa dia tak bersalah. Akhirnya dengan garang
Sidapaksa yang sudah gelap mata menikam Sri Tanjung dengan keris hingga tewas. Maka keajaihan pun terjadi. benarlah persumpahan Sri Tanjung, dari luka tikaman yang mengalir bukan darah segar melainkan air yang beraroma wangi harum semerbak. Raden Sidapaksa menyadari kekeliruannya dan menyesali perbuatannya. Sementara sukrtia Sri Tanjung terbang ke Swargaloka dan bertemu Dewi Durga.
Setelah mengetahui kisah ketidakadilan yang menimpa Sri Tanjung, Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh Dewi Durga dan para dewa. Sri Tanjung pun dipersatukan kembali dengan suaminya. Para dewa memerintahkan Sidapaksa untuk menghukum kejahatan Raja Sulakrama. la pun membalas dendam dan berhasil membunuh Raja Sulakrama dalam suatu peperangan. Konon air yang harum mewangi itu menjadi asal mula nama tempat tersebut. Maka sampai sekarang ibukota kerajaan Blambangan dinamakan Banyuwangi.
Rujukan: Kang Munawir - Komunitas Banyuwangi Tempo Dulu
Asal-usul Banyuwangi hanya hidup dalam legenda. Legenda, suka atau tidak suka, adalah sebuah cerita fiksi. Bagaimana mungkin seorang manusia, mengawini seorang bidadari yang lantas melahirkan Sri Tanjung? Sidhapeksa juga keturunan Pandawa. Jadi boleh dibilang ini cerita berbingkai. Menggabungkan cerita pewayangan dengan cerita (fiksi) yang melibatkan tokoh manusia. Meskipun di Banyuwangi sendiri, ada orang-orang yang yakin ada sumur di desa Temenggungan yang merupakan tempat tertumpahnya darah Sri Tanjung, sehingga pada waktu-waktu tertentu airnya berbau wangi sampai sekarang.
Kalau anda bertanya kisah fiksinya, anda perlu belajar dari Cak Lontong, untuk mencoba menggali dari orang sekitar. Adakan survey, bagaimana cerita Sri Tanjung - Sidhapeksa? Bagaimana dengan versi yang muncul dalam drama rakyat? Bagaimana yang keluar dalam buku cerita anak-anak? Saya yakin, 99 persen, ceritanya berhenti sampai air sungai semerbak mewangi setelah Sri Tanjung dibunuh oleh Sidhapeksa. Sementara yang 1 persen? Mereka mempercayai apa yang dikatakan 99 persen orang yang disurvey.
Lanjut Baca: Bagaimana Legenda Banyuwangi yang Sebenarnya?
Padahal dalam serat aslinya (paling tidak yang saya dapat copy-nya tulisan orang Lugonto Rogojampi ditulis dalam huruf arab pegon, selesai ditulis tahun 1896 masehi), cerita Sri Tanjung adalah sebuah cerita happy ending. Sri Tanjung, anak bidadari yang kawin dengan manusia, disunting oleh patih Sidhapeksa, yang keturunan dari Pandawa.
Sri Tanjung mewarisi sebuah selendang yang bisa membuat orang yang memakainya terbang ke kahyangan tempat tinggal para dewa. Parasnya yang cantik membuat raja Sindureja, Sulakrama, jatuh cinta dan ingin merebutnya dari patihnya. Akhirnya, Sidhapeksa diberi tugas yang sulit untuk mencari emas tiga gelung yang adanya hanya di kahyangan. Dengan bantuan selendang isterinya, dia bisa ke kahyangan dan mengobrak-abrik isinya. Sampai akhirnya dia dikeroyok oleh para dewa, dan ternyata dia tidak jadi dibunuh karena dia mengaku sebagai suaminya Sri Tanjung dan merupakan keturunan Pandawa.
Pada saat suaminya pergi, Sri Tanjung didatangi oleh Raja Sulakrama. Tetapi Sri Tanjung menolak segala keinginan raja.
Setelah turun ke bumi dan menghadap raja, Sidhapeksa dapat berita miring dari raja, bahwa Sri Tanjung mengajaknya serong. Sidhapeksa akhirnya marah pada Sri Tanjung dan membunuhnya.
Dari sini semua sudah tahu karena tidak bersalah air sungai menjadi wangi dan ini menjadi asal-usul Banyuwangi.
[caption id="" align="aligncenter" width="1000"]
Sementara Sidhapeksa menyesali perbuatannya, Sri Tanjung dihidupkan lagi oleh ibunya dan dikirim ke kakeknya. Di sana ia bertemu suaminya lagi. Dan pertemuan membahagiakan ini dirayakan dengan suka cita (yang dalam versi Lugonto, mereka nanggap ludruk, gandrung pria Marsan, dan wayang).
Mestinya mulai sekarang Legenda Sri Tanjung Sidapeksa harus dikembalikan kepada pakemnya. Yang happy ending. Pakem asli itu memberi banyak pelajaran. Selain happy ending (penonton/pembaca selalu menyukai happy ending), juga memberi kesempatan kedua kepada orang yang melakukan kesalahan, dan tidak melulu hanya cerita kejam suami yang menghabisi isterinya. Tapi juga ada cerita cinta, dan akhir yang membahagiakan untuk seorang istri yang menjaga kehormatan untuk suaminya.
Kalau ceritanya dipotong hanya sampai Sri Tanjung mati, seakan-akan memberi pelajaran sebuah kesia-siaan untuk sebuah perbuatan baik. Ini fiksi sehingga harus ada pelajaran baik di situ.
Ceritanya adalah sebagai berikut. Kisah diawali dengan menceritakan tentang seorang ksatria yang tampan dan gagah perkasa bernama Raden Sidapaksa yang merupakan keturunan keluarga pandawa.Ia mengabdi kepada raja sulakarma yang berkuasa di negeri Sindurejo. Sidapaksa diutus mencari obat oleh raja kepada kakeknya Bhagawan Tamba Petra yang bertapa di pegunungan. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat ayu bernama Sri Tanjung. Sri Tanjung bukan gadis biasa,karena ibunya bidadari yang turun ke bumi dan diperistri seorang manusia.
Karena itulah Sri Tanjung memiliki paras yang luar biasa cantik jelita. Raden Sidapaksa jatuh hati dan menjalin cinta dengan Sri Tanjung yang kemudian dinikahinya. Setelah menjadi istrinya, Sri Tanjung diboyong ke Kerajaan Sindurejo. Raja Sulakrama diam-diam terpesona dan tergila-gila akan kecantikan Sri Tanjung. Sang Raja menyimpan hasrat untuk merebut Sri Tanjung dari tangan suaminya, sehingga ia mencari siasat agar dapat memisahkan Sri Tanjung dari Sidapaksa.
Lantas Sidapaksa diutus oleh Raja Sulakrama pergi ke Swargaloka dengan membawa surat yang isinya “Pembawa surat ini akan menyerang Swargaloka". Atas bantuan Sri Tanjung yang menerima warisan selendang ajaib peninggalan ibunya dari ayahnya, Raden Sudamala, Sidapaksa dapat terbang ke Swargaloka. Setibanya di Swargaloka, Sidapaksa yang tidak mengetahui apa isi surat itu menyerahkan surat itu kepada para dewa. Akibatnya dia dihajar dan dipukuli oleh para dewa. Namun akhirnya, dengan menyebut leluhurnya adalah Pandawa, maka jelaslah kesalahpahaman itu. Raden Sidapaksa kemudian dibebaskan dan diberi berkah oleh para dewa.
Sementara itu di bumi, sepeninggal Sidapaksa, Sri Tanjung digoda oleh Raja Sulakrama. Sri Tanjung menolak, namun Sulakrama memaksa, memeluk Sri Tanjung, dan hendak memperkosanya. Mendadak datang Sidapaksa yang menyaksikan istrinya berpelukan dengan sang Raja. Raja Sulakrama yang jahat dan licik, malah balik memfitnah Sri Tanjung dengan menuduhnya sebagai wanita sundal penggoda yang mengajaknya untuk berbuat zina.
Sidapaksa termakan hasutan sang Raja dan mengira istrinya telah berselingkuh, sehingga ia terbakar amarah dan kecemburuan. Sri Tanjung memohon kepada suaminya agar percaya bahwa ia tak berdosa dan selalu setia. Dengan penuh kesedihan Sri Tanjung bersumpah apabila dirinya sampai dibunuh, jika yang keluar bukan darah, melainkan air yang harum, maka itu merupakan bukti bahwa dia tak bersalah. Akhirnya dengan garang
Sidapaksa yang sudah gelap mata menikam Sri Tanjung dengan keris hingga tewas. Maka keajaihan pun terjadi. benarlah persumpahan Sri Tanjung, dari luka tikaman yang mengalir bukan darah segar melainkan air yang beraroma wangi harum semerbak. Raden Sidapaksa menyadari kekeliruannya dan menyesali perbuatannya. Sementara sukrtia Sri Tanjung terbang ke Swargaloka dan bertemu Dewi Durga.
Setelah mengetahui kisah ketidakadilan yang menimpa Sri Tanjung, Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh Dewi Durga dan para dewa. Sri Tanjung pun dipersatukan kembali dengan suaminya. Para dewa memerintahkan Sidapaksa untuk menghukum kejahatan Raja Sulakrama. la pun membalas dendam dan berhasil membunuh Raja Sulakrama dalam suatu peperangan. Konon air yang harum mewangi itu menjadi asal mula nama tempat tersebut. Maka sampai sekarang ibukota kerajaan Blambangan dinamakan Banyuwangi.
Rujukan: Kang Munawir - Komunitas Banyuwangi Tempo Dulu
Komentar
Posting Komentar