Langsung ke konten utama

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya hanya mencintai secara khayalan doang gan. Iya, cuma dalam imajinasi. Sebetulnya nggak masalah, cinta emang gitu adanya. Tanpa harus disatukan, kita bisa saja menyandarkan cinta dan harapan kita kepada orang yang kita rasakan sebagai belahan jiwa kita.



Jika berlayar juga harus berlabuh


Tapi, kalau memang ingin ada dermaga, ingin ada pelabuhan, ya itu juga nggak masalah kalau diwujudkan. Karena capek juga berlayar tanpa ada tempat berlabuh (serius capek gan! 😐). Hanya saja kita harus bisa nih memilih waktu yang tepat untuk menyatukan perasaan cinta kita. Ibarat kapal yang sedang berlayar, tentu ada saat yang tepat untuk melepas jangkar. Jangan sampe kita sembarangan melepas jangkar lalu merusak terumbu karang yang ada disitu lalu mengganggu perjalanan kapal. Ya, melabuhkan cinta pun harus jelas waktu dan tempatnya. Dan yang paling wajib harus jelas pula dermaganya sebagai pelabuhan terakhir.

Nah, mungkin kamu yang masih ragu dan masih malu untuk mengungkapkan cinta, banyak-banyaklah berdoa saja. Biarkan cinta itu tumbuh dulu di taman hati, tanpa diganggu dengan aktivitas yang lain, yang bisa membuat kita kecewa dan merasa bersalah. Bagi kamu yang sudah siap untuk berlabuh, karena sudah menemukan dermaga yang pas, apalagi waktu dan tempatnya sudah ditentukan, undang kita-kita tah hehehe 😁😁.

Sabar... sabar... sabar... dan terus bersyukur buat kamu yang masih sekolah, yang masih kuliah, yang baru dapet kerjaan, dan yang baru putus cinta (cieee jomblo). Masih ada kata cinta untuk kalian. Jangan menyerah. Tentu harus di jalan yang benar. Prioritas-in amalanmu untuk masa depan. Rajin-rajin deh sedekah biar lancar. Jagan tergoda dulu untuk saling berbagi cinta, jika hanya cinta monyet atau cinta buaya, mending ga usah deh 😄.

Ilustrasi DoaCita-cita, usaha, dan doa


Nah sebaliknya, kalau kamu sudah punya bidang target nih tapi kamu masih berstatus seperti alenia di atas, banyak ber doa saja kepada Allah,

“Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Aku tak sanggup memalingkan rasa cinta itu kepada yang lain. ia menjadi kupu-kupu indah di taman hatiku. Ia menjadi laksana bunga segar di ruang hatiku yang kosong dan gersang. Ya Allah, terimakasih Engkau telah anugerahkan kepadaku rasa cinta kepadanya. Rasa cinta yang mampu mengggerakkan segala potensiku untuk berkarya dan memiliki semangat hidup. Jika memang ia jodohku, tetapkan hatiku untuk mencintainya. Jika dia baik bagi agamaku, dakwahku, dan kehidupan di dunia dan akhirat, mudahkanlah ia untk kudapatkan. Kuatkan terus sinyal cinta kepadanya, aku mohon kepada-Mu untuk menjada rasa cintaku kepadanya sampai batas waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Berikan juga cinta-Mu kepadanya agar ia mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Tetapkan rasa itu, ya Allah.. jagalah aku dari perbuatan buruk akibat cinta ini. Tapi jika dia bukan dermaga untuk berlabuhnya cintaku, tolong carikan dermaga lain yang tepat untuk cintaku. Aku ikhlas atas segala keputusan-Mu...”.



Untuk kamu yang masih sekolah, yang masih kuliah, yang baru dapat kerjaan, dan yang baru putus cinta. Masih ada kata cinta untuk kalian. Jangan menyerah.

Sobat muslim, jangan sepelekan kekuatan doa. Karena doa itu sendiri adalah senjata bagi seorang muslim. O ya, untuk menggapai sukses, kita memang harus punya cita-cita, usaha, dan juga doa. Ibarat perkalian, semua komponen itu (cita-cita, usaha, dan doa) harus bernilai. Tak boleh ada yang 0 (nol). Kalau cita-cita sudah ada, usaha sudah jalan, satu lagi jangan lupakan, doa.

Punya cita-cita mencintai seseorang, harus jelas usahanya. Harus bisa mengukur juga kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Dan... barengi dengan doa supaya nggak kecewa dan supaya berkah apa yang kita lakukan. Oke? Insya Allah kita tetap bisa menikmati cinta 😇.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...