Langsung ke konten utama

Postingan

Rip Current

Cinta ini seperti arus tak terlihat. Pelan, tapi pasti, ia menarikku ke pusat. Awalnya aku pikir hanya bermain air di tepian, tapi gelombangmu datang tanpa peringatan, menyelimuti, menyeret, menghisap, hingga aku kehilangan kendali atas kaki sendiri. Aku terjebak, tak bisa berenang. Semakin melawan, semakin aku tenggelam. Kau adalah lautan penuh teka-teki, permukaanmu tenang, tapi dasarmu menyimpan misteri. Aku pikir aku bisa mengendalikannya, menjaga jarak aman, tetap mengapung di atas rasa. Tapi kau bawa aku jauh, terlalu jauh dari garis pantai yang kusebut rumah. Seseorang pernah bilang, “Jangan melawan.” Mungkin benar, karena semakin aku coba melawan arus ini, semakin dalam aku jatuh ke cinta yang tak pasti. Namun, sampai kapan aku membiarkan diri hanyut? Jika cinta adalah laut tanpa pantai, mungkin aku hanya ingin pulang. Selesai.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...