Alam berbicara ? Ah itu suatu hal yang mustahil. Okelah alam bisa berbicara, contoh air yg bergemuruh dan angin yang bersiul. Tapi bagaimana bila alam berbicara? Apa kata Ibu Pertiwi? Apa pula yang dikatakan Hutan Hujan? Pastinya akan mengguncang hati dan sanubari kita sebagai manusia.
Kita memang serakah
Ya, kita sebagai manusia memang serakah. Alam memberi pada kita, kita mengambil dari mereka. Tapi kita mengambil secara berlebihan! Tak tahukah setiap elemen di alam jumlahnya terbatas? sebagai contoh air, kita semua butuh air. Bahkah saudara-saudara kita di Jawa Tengah dan Yogyakarta sering kekurangan air. Dari sini apakah kita akan berperang memperebutkan air? Sebagaimana kita berperang memperebutkan segalanya?
Dari situlah mengapa manusia membutuhkan alam bukan alam yang membutuhkan manusia. Apakah kita lupa bahwa kita berasal dari alam dan akan kembali ke alam? Alam bisa saja berevolusi. Apabila alam membaik, manusia pun membaik. Apabila alam terpuruk, manusia juga terpuruk, bahkan bisa lebih buruk. Lalu apakah kita siap menghadapi perubahan sang alam?
Mungkin seperti yang dikatakan jika alam berbicara
Mungkin yang dikatakan Ibu Pertiwi adalah, "Aku pernah memberi makan makhluk yang jauh lebih besar darimu, dan Aku pernah membuat kelaparan makhluk yang jauh lebih besar darimu".
Mungkin yang dikatakan Hutan Tropis, "Manusia bernafas dengan udara, Aku membuat udara. Manusia membuat udara? Coba kita lihat".
Mungkin yang dikatakan Samudera, "dulu, Aku pernah menutupi planet ini. Dan Aku bisa saja melakukannya lagi".
Memang mengerikan seandainya alam berbicara. Tapi, kini sudah saatnya kita sebagai manusia untuk, menjaga, merawat, dan melindungi alam. Alam tak butuh manusia. Manusia butuh alam.
Ini adalah bagian dari kampanye yang diselenggarakan oleh Conservation International Indonesia untuk lebih menjaga alam. Bila waktu sudah memanggil kita bisa apa untuk lari? kita harus bergerak, bergerak, dan bergerak. Jangan sampai alam menunggu terlalu lama.
Komentar
Posting Komentar