Langsung ke konten utama

5 Faktor Utama dalam Menciptakan Kesan Pertama yang Baik

Saudara pembaca, sudah hal mutlak kalau kesan pertama adalah yang mengawali interaksi dalam pergaulan. Kita dapat membuat diri kita sebagaimana yang kita inginkan. Jadi bagaimana kita membentuk kesan, tergantung apa yang Anda mau.

Kesan pertama pada public speaking


Berikut ada lima tips dalam menciptakan kesan pertama yang baik:



  1. Tunjukan percaya diri Anda. Iya dong, kalau kita berinteraksi dengan pihak lain, kalau sudah belum apa-apa sudah berbicara tidak menatap mata, hanya menunduk, kemudian seolah-olah kesannya itu bisa diperintah gitu ya, tidak ada percaya diri, maka Anda sudah kehilangan satu moment, gitu. Kehilangan satu point.

  2. Tunjukan bahwa Anda mempunyai power untuk mempengaruhi. Power bukan kekuasaan ya. Power itu bisa diwujudkan, bisa diimplementasikan dalam sikap. Misalnya dari sikap berdiri, nanti kita akan bahas untuk non-verbalnya. Itu pun bisa bicara soal power.

  3. Kemudian kita menunjukan ketulusan hati Anda bahwa Anda mau berinteraksi, Anda mau berkolaborasi dengan pihak lain. Jangan judes, jangan jutek, dan jangan senyum terus gitu ya, itu juga enggak boleh ya. Senyum pun juga ada aturannya, susah ya berkomunikasi ya. Oke. 

  4. Lalu Mampu membangun kepercayaan audience. Apa artinya? Kalau kita lagi berbicara di depan umum, memberikan kuliah, presentasi, pidato, apapun bentuknya, kita harus meberikan kepercayaan kepada audience. Dalam artian memberi kesempatan audience untuk juga menyampaikan pendapatnya. Jadi kita itu enggak kesannya semaunya sendiri. Kemudian kita kesannya otoriter dan segala macam. Jadi memberi juga kesempatan dan kepercayaan kepada audience kita.

  5. Selanjutnya amati audience kita karena ternyata impresi itu bisa dikelola melalui dengan pengamatan kita terhadap audience.


akhir pembicaraan yang baik

Saudara di mana pun Anda berada, bagaimana? Pada intinya, apa yang saya ungkapkan tadi merupakan langkah awal dalam berbicara di depan publik. Bukan sekadar berbicara di depan publik, tetapi juga berintraksi dengan siapa pun juga. Bagaimana, siap mencoba? Oke. Selamat mencoba, selamat mempraktikkan bagaimana kita bisa membuat diri kita percaya diri. Salam.




Dian Budiargo, Universitas Terbuka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...