Langsung ke konten utama

Modernisasi Wanita dalam Pergerakan Organisasi Kampus

Oleh : Robiah Fitriani*
"Soal wanita bukanlah soal buat wanita saja, tetapi soal masyarakat, soal wanita dan laki-laki. Dan sungguh soal masyarakat dan Negara yang amat penting."

Sarinah



Melihat dengan kacamata sosial budaya menanggapi fashion wanita yang hidup di zaman "kekinian" dimana hal utama selalu berkaitan dengan fashion dan make up membuat perempuan melupakan kewajibannya bahwa kontribusi membangun negeri tidak hanya soal wajah yang rupawan.

Bagaimana bisa pergerakan dan organisasi bisa terlepas dari buaian wanita?


Menjalankan nahkoda organisasi memang menggunakan strategi dan taktik hebat dari otak yang cerdas, namun pergerakan akan menjadi anarkis bila tidak menggunakan perasaan. Otak yang cerdas akan luntur kepintarannya bila tidak menggunakan perasaan, lah bagaimana bisa??? Otak akan terus merangsang kehidupan yang lebih baik lagi yang akan mendorong sifat ambisius yang besar dengan segala strategi untuk mencapainya.

Apa hubungannya dengan perempuan?


Laki laki dan perempuan diciptakan untuk berdampingan agar kualitas hidup menjadi lebih baik lagi, bukan hanya sekedar pencetak generasi. Generasi yang hebat tidak pernah terlepas dari ibu yang tangguh. Perempuan bisa saja bergerak dalam membangun organisasi atau berkontribusi untuk negara, dengan selalu berjalan berdampingan dengan laki laki, namun hendaknya wanita tidak pernah lupa bahwa di dalam hatinya tersimpan permata berupa "kodrat". Pergerakan dan organisasi memang membutuhkan tangan halus perempuan, dia yang akan mengajarkan sebuah keikhlasan, perasaan dan kelembutan.

Remaja perempuan harus bersinergis dalam berjuang, harus lembut dalam bergerak dan berkembang dalam organisasi tapi bukan membuat manifesto berlebihan. Lihat saja pada kenyataannya sudah banyak perempuan yang berorganisasi dan mendapat tempat strategis. Namun jangan lihat suatu kecerdasan perempuan dari jabatan atau kekuasaannya, itu akan membuat perempuan rendah derajatnya. Jangan melihat perempuan dari sisi keindahannya, maka akan tercorenglah harga diri perempuan tersebut. Belajarlah bagaimana cara perempuan itu berproses, menghadapi masalah dan bangun ketika terjatuh.

Sekali lagi, perempuan bukan hanya soal fashion atau make up. Tapi mereka sebagai sinergis organisasi yang setiap langkah dan fikirannya tidak pernah lepas dari kehati-hatian walau pun lubang yang berkerikil tajam selalu melukai kakinya.



Dialah bunga terindah dari hasil pupuk terbaik. Bunga yang indah berasal dari pupuk berkualitas. Wanita berkualitas adalah yang mau belajar, mau mengisi otak dan hati nya dengan ilmu. Fisiknya mau bergerak dan bahu ikut membangun.




*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Kelautan angkatan 2014, sekarang aktif di LPM AQUA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Selamat Wisuda

Hari ini tiba, detik yang dinanti. Jalan kita beriring, kini harus terbagi. Bersama, kita telah menempuh samudera ilmu, berlayar di bawah langit biru yang penuh asa. Tawa kita pernah bergema di sudut kelas, di malam-malam panjang yang penuh perjuangan. Tapi kini, tibalah saatnya untuk melangkah jauh—ke arah yang berbeda, dengan hati yang penuh harap. Di ujung senja, kita kan berjumpa. Meski jalan ini membawa kita ke arah yang berbeda, kenangan ini abadi, meski tak lagi sama. Aku tahu, kita akan selalu satu rasa. Sebab jejak kita telah terukir dalam setiap langkah pertama yang kini harus kita tapaki sendiri. Mungkin, ada air mata yang tertahan. Mungkin, ada rindu yang diam-diam berbisik dalam hati. Tapi kita adalah bintang yang pernah bersinar bersama, dan sinarmu akan selalu kurasa, meski dari kejauhan. Meski kita terpisah, takdir tak bisa dihalang. Kenangan ini akan selalu menjadi rumah, tempat hati kita kembali. Selamat wisuda, anak-anakku yang tercinta. Kita kan bertemu lag...

Asal Usul Banyuwangi

Bagaimana asal-usul Banyuwangi? Kalau jawaban yang anda harapkan adalah rujukan sejarah, yang akan anda temui hanyalah rasa frustasi. Tak ada rujukan tertulis dalam laporan resmi Belanda (misalnya dari regent Banyuwangi ke gubernur jenderal di Batavia) atau catatan pribadi tentara Belanda atau tentara Inggris (yang juga pernah menduduki Banyuwangi).