Langsung ke konten utama

Sejarah dan Bagaimana Cara Merayakan Tahun Baru?

Tahun baru masehi pertama kali dirayakan pada Tanggal 1 januari 45M. Yaitu setelah Kaisar Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma dibantu Sosigenes.

Kalender ini pada awalnya untuk menentukan jadwal kebaktian gereja.
Tahun Masehi = Before Christ = Amno Domini (tahun tuhan) dalam bahasa latin. Diyakini (diduga) sebagai tahun kelahiran Yesus dengan asumsi teologis Isa sebagai pusat sejarah manusia.

Perhitungan kalender masehi baru dilakukan pada 526 M. Sebelum kalender masehi bangsa Romawi memakai kalender julian yg dihitung dari kelahiran Julius Caesar. Awal tahun dalam kalender julian dihitung mulai 1 maret. Ketika Isa al Masih atau Yesus Kristus ditetapkan sebagai Tuhan dalam konsili nicea yg digagas Kaisar Konstantin, ditetapkan pula tanggal kelahiran Isa adalah 25 Desember, menggantikan ulang tahun Hercules (karena sama-sama anak Tuhan). Kaisar Konstantin lalu menarik awal tahun dari 1 maret ke tanggal 1 terdekat dengan 25 Desember yakni 1 januari.

Nama Januari diambil dari nama Dewa Janus (dewa pintu & semua permulaan). Tanggal 25 juga tanggal lahir Dewa Mithra (matahari) sehingga disebut Sun-Day yg kemudian hari minggu dijadikan sebagai hari kebaktian agama kristen (unsur paganisme). Sehingga tahun baru masehi dengan segala pernak perniknya merupakan bagian tak terpisahkan dengan perayaan natal (hari raya kristen) yang meyakini Isa a.s sebagai anak Tuhan, yang jelas bertentangan dengan konsep Aqidah islam bahwa Allah Maha Suci tidak beranak dan diperanakan (Q.S Al-Ikhlas).

Semoga ummat Islam sadar untuk tidak ikut - ikutan merayakan dan meramaikannya. Apalagi dengan menggunakan pernak pernik malam tahun baru, padahal itu semua cara agama lain memanggil umatnya dlm beribadah:  lonceng (bagi agama kristen), terompet (bagi agama Yahudi), api (bagi majusi). Yang semua ini ada pada malam tahun baru masehi.

Semoga diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, sanak kerabat kita dan ummat Islam dijauhkan dari perilaku menyerupai perbuatan mereka (red: cara ibadah/tasyabbuh).
bagaimana cara kita untuk merayakan tahun baru?

Untuk itu perbanyak berdoa, istighfar, dzikir, baca Alquran, taklim untk memberikan kesibukan dan mengalihkan perhatian generasi islam ini pada malam - malam penuh kemaksiatan.

[caption id="attachment_52076" align="aligncenter" width="640"]Perbanyak Berdoa dan beristigfar Perbanyak Berdoa dan beristigfar[/caption]
Yaa rabb ampuni dosa kami, keluarga kami dan ummat islam semuanya. Jadikanlah kami berperilaku khas sbgmn tuntutan agamaMu. Amiiin yaa rabbal 'alamiin.





Credit: Akh. Muwafik Saleh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...