Langsung ke konten utama

Cerita Lain dari Minak Jinggo yang Harus Kamu Ketahui

Damarwulan adalah seorang tokoh legenda cerita rakyat Banyuwangi. Kisah Damarwulan ini lumayan populer di tengah masyarakat dan memiliki banyak versi. Baik versi dalam bentuk sendratari maupun cerita yang tertulis. Umumnya kisah-kisah tersebut didasarkan pada Serat Damarwulan yang diperkirakan mulai ditulis pada masa akhir keruntuhan Majapahit.

Minak Jinggo adalah Adipati Blambangan yang memiliki kesaktian tinggi. Suatu ketika, ia berencana untukmemberontak pada kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh seorang raja perempuan yang cantik jelita yang bernama Ratu Ayu Kencana Wungu. Sang Ratu kemudian mengadakan sayembara untuk menangkal ancaman dari Minak Jinggo. Salah seorang peserta sayembara ini adalah seorang pemuda bernama Damarwulan.

Sebagaimana kita tahu, Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu merupakan penguasa kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah. Daerah-daerah tersebut kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur itu.

Salah satu kerajaan kecil yang menjadi taklukan Majapahit adalah kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan Blambangan dipimpin oleh seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, yang bernama Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau.

Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Meskipun hanya seorang raja taklukan, sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas. Ratu Majapahit itu pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadakan sebuah sayembara.
“Barangsiapa yang mampu mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, maka diaakan kuangkat menjadi Adipati Blambangan dan kujadikan sebagai suami”.

Demikian maklumat Ratu Ayu Kencana Wungu yang dibacakan di hadapan seluruh rakyat Majapahit.

Sayembara itu diikuti oleh puluhan orang. Namun, semua gagal mengalahkan kesaktian Adipati Kebo Marcuet. Hingga datanglah seorang pemuda tampan dan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah cucu Ki Ajah Pamengger yang merupakan guru sekaligus ayah angkat Adipati Kebo Marcuet. Rupanya Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Maka dengan senjata pusakanya yang berupa gada wesi kuning (gada yang terbuat dari kuningan) dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa sakti yang bernama Dayun, Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.

Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan Adipati Kebo Marcuet. Diapun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Minak Jinggo. Akan tetapi, Ratu Ayu Kencana Ungu menolak menikah dengan Jaka Umbaran karena pemuda itu kini tidak lagi tampan. Akibat pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet, wajah Jaka Umbaran yang semula rupawan menjadi rusak. Kakinya pincang dan badannya menjadi bongkok.

Tapi Jaka Umbaran alias Minak Jinggo tetap bersikeras menagih janji. Ia datang ke Majapahit untuk melamar Ratu Ayu Kencana Wungu meskipun pada saat itu ia telah memiliki dua selir bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Lamaran Minak Jinggo bertepuk sebelah tangan karena Sang Ratu tetap tidak sudi menikah dengannya.

Penolakan itu membuat Minak Jinggo murka dan memendam dendam kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Untuk melampiaskan kemarahannya, Minak Jinggo merebut beberapa wilayah kekuasaan Majapahit sampai ke Probolinggo. Tidak hanya itu, Minak Jinggo juga berniat untuk menyerang Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minak Jinggo ingin menyerang kerajaannya. Maka ia kembali menggelar sayembara.
“Barangsiapa yang berhasil membinasakan Menak Jinggo akan kujadikan suamiku!”

Ucap Ratu Ayu Kencana Wungu di hadapan seluruh rakyat Majapahit.

Sekali lagi, puluhan pemuda turut serta dalam sayembara tersebut. Namun, tidak ada satupun yang berhasil mengungguli kesaktian Minak Jinggo. Hal ini membuat Sang Ratu makin cemas. Saat kekhawatirannya makin besar, datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan. Ia adalah putra Patih Udara, yaitu patih Majapahit yang sedang pergi bertapa.

Saat itu Damarwulan sedang bekerja sebagai perawat kuda milik Patih Logender. Adapun Patih Logender adalah seorang patih Majapahit yang ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayah Damarwulan. Di hadapan Ratu Ayu Kencana Wungu, Damarwulan menyampaikan keinginannya mengikuti sayembara untuk mengalahkan Minak Jinggo. Ratu mengizinkannya.

Maka pertarungan sengit antara Minak Jinggo dan Damarwulan pun terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Minak Jinggo. Damarwulan lalu dimasukkan ke dalam penjara.

Rupanya kedua selir Minak Jinggo, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka secara diam-diam mengobati luka pemuda itu. Bahkan, mereka juga membuka rahasia kesaktian Menak Jinggo.

Pada malam harinya, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minak Jinggo terlelap. Pusaka itu kemudian mereka berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan kembali menantang Minak Jinggo untuk bertarung. Sudah pasti, alangkah terkejutnya Minak Jinggo manakala melihat senjata pusakanya ada di tangan Damarwulan.

Damarwulan tidak menjawab keterkejutan Menak Jinggo. Ia hanya segera menyerang Minak Jinggo dengan senjata gada wesi kuning yang sudah siap di tangannya. Minak Jinggopun tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Iya, akhirnya Adipati Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan memenggal kepala Minak Jinggo untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Dalam perjalanan menuju Majapahit, Damarwulan dihadang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua orang yang bersaudara itu adalah putra Patih Logender. Rupanya mereka diam-diam mengikuti Damarwulan ke Blambangan. Saat melihat Damarwulan berhasil mengalahkan Menak Jinggo, mereka hendak meminta/merebut kepala Menak Jinggo agar diakui sebagai pemenang sayembara.

Damarwulan tentu saja menolak permintaan keduanya. Pertarungan tentu saja tak terelakkan lagi di antara mereka. Layang Seta dan Layang Kumitir mengeroyok Damarwulan dan berhasil merebut kepala Minak Jinggo. Kepala itu kemudian mereka bawa ke Majapahit. Pada saat mereka hendak mempersembahkan kepala itu kepada Ratu Ayu Kencana Wungu, tiba-tiba Damarwulan datang dan segera menyampaikan kebenaran.

Pertengkaran antara kedua pihakpun makin memanas. Mereka sama-sama mengaku sebagai pihak yang telah memenggal kepala Minak Jinggo. Ratu Ayu Kencana Wungu menjadi bingung. Ia tidak dapat menenentukan siapa di antara mereka yang benar. Maka sebagai jalan keluarnya, penguasa Majapahit itu meminta kedua belah pihak untuk bertarung adu kesaktian.

Apa boleh buat? Pertarungan diantara mereka harus terjadi lagi. Kali ini Damarwulan lebih berhati-hati menghadapi kedua putra Patih Logender itu. Ia harus membuktikan kepada Sang Ratu bahwa dirinyalah yang benar. Demikian pula Layang Seta dan Layang Kumitir, mereka tidak ingin kebohongan mereka terbongkar di hadapan Sang Ratu.

Dengan disaksikan oleh Ratu Ayu Kencana Wungu dan seluruh rakyat Majapahit, pertarungan berlangsung sangat seru. Kedua belah pihak mengeluarkan seluruh kekuatan masing-masing demi memenangkan pertandingan.Pertarungan berakhir dengan kemenangan Damarwulan. Layang Seta dan Layang Kumitir terpaksa mengakui kesalahan mereka dan kemudian dimasukkan ke penjara. Sementara itu, Damarwulan berhak menikah dengan Ratu Ayu Kencana Wungu.




Credit : Agustina soebachman dalam Hikayat Bumi Jawa dari Banyuwangi Tempo Dulu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...