Langsung ke konten utama

Pojok Misteri: Penunggu atau Pendaki Gunung Semeru?

Oleh : @mariadewinatalia
Tepatnya satu tahun yg lalu menjelang HUT RI ke-70, tahun 2015. Ini kisah kami ber-6, gua, rena, bodo, dika, fauzan & abang yg ingin melakukan upacara di puncak tertinggi atap Jawa. Berawal dari berita bahwa ada 1 org hilang di gunung semeru, 1 org patah tulang & 1 org perempuan meninggal disana. Mendengar kabar itu, salah 1 orang dari rombongan kami mengundurkan diri untuk ikut.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat. Lihat nanti saja, akan pindah haluan ke gunung lain atau tidak. Sepanjang perjalanan,kita terus mantengin medsos berharap kalau org yg hilang sudah ditemukan & status gn semeru telah dibuka. Pd sore menjelang malam, ada kabar bahwa org yg hilang di semeru telah ditemukan. Sontak, para pendaki yg ada dikereta menjadi heboh,kemudian kami saling bertukar informasi.

Setelah ngobrol sama rombongan,kami memutuskan untuk pindah haluan ke gunung arjuno. Pd saat perjalanan ke arjuno,supir angkot kami bilang kalau status gn semeru sudah dibuka. Tanpa pikir panjang kami memutar haluan kembali ke Semeru. Singkat cerita,kami sampai di basecamp semeru & langsung ikut briefing. Pd saat briefing,yg sedang datang bulan disarankan untuk tdk ikut naik ke puncak. Dalam rombongan kami,Rena sedang datang bulan.

Rombongan kami berjalan duluan sekitar pukul 3 karena Bodo & Fauzan udah ngebet mau naik & takut kemaleman di track. Singkat cerita, malampun tiba. Rombongan yg tadinya dibelakang kami sudah banyak yg mendahului kami. Hawa dingin & rasa lelah sudah mulai terasa. Kami akhirnya sampai di Landengan Dowo, banyak pendaki yg memutuskan untuk istirahat disana. Kami jg memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan sifat2 asli kami mulai terlihat. Emosipun sudah tidak bisa dikontrol lagi.

Perdebatan pun muncul diantara kami.Setiap kali kami istirahat selalu ada perdebatan. Sampai pd akhirnya rombongan kami terpecah. Bodo memutuskan untuk jalan duluan,gua sama Rena jalan ditengah & Fauzan,Dika sama Abang jalan di belakang. Jarak kami sudah hampir tidak terlihat 1 sama lain. "Si bodo kenapa sih jalan duluan, buru2 amat lagi,"tanyaku

Lanjut Baca: Penunggu atau Pendaki Gunung Semeru?




"Ngambek kali dia,"jawab abang "Yaa udah., gua kejar bodo dulu yaa,ayoo ren".

Dengan sekuat tenaga gua manggil Bodo Gua "BODO...BODO...BODO...TUNGGU APA JGN BURU2," ber-kali2 gua manggil dia tapi bodo nggak sedikitpun noleh.

Tiba2 terdengar suara teriakan sangat keras dari belakang, ".....AAAAAAAAAAAAA.....,"

Gua pun langsung nengok kearah belakang, ternyata Rena gak ada. Dalam posisinya bingung, akhirnya gua mutusin buat nyamperin Rena. Pas ketemu, rena langsung megang tangan gua "tungguin apa tungguin" suaranya bergetar.

"Ngapa emangnya," tanyaku.

"Gua tadi liat tangan... liat tangan," jawab Rena.

"Suuutt diem, udah jalan ajaa yukk," ujarku lagi.

Anjj**rrr... ngedenger itu siapa yang gak panik. Gua berusaha buat gak terlihat panik di depan Rena. Gua baru inget kalo dia lagi dateng bulan. Kita berdua kembali ngejar Bodo, posisinya saat itu kita lagi ada di Watu Rejeng. Bodopun akhirnya mau nunggu juga setelah denger Rena teriak. Kami akhirnya menunggu teman yg ada dibelakang buat jalan bareng lagi

Lanjut Baca: Penunggu atau Pendaki Gunung Semeru?




Singkat cerita akhirnya kami berenam sampai di Ranukumbolo hampir jam 1 pagi. Gua sebenarnya gak abis pikir, kenapa jalannya lama banget. Dari jam 3 kita udah mulai ngetrack tapi baru sampe hampir jam 1 pagi. Kayanya ada yg gak beres. Saat itu gua ngerasa jalurnya panjang banget dan gak nyampe2 ditambah tim gua jalannya udah pada emosian. Beban yg ada dipundak berasa jadi lebih berat 2kali lipat.

...Bersambung...




Credit: Urban Hikers

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...