Langsung ke konten utama

Ternyata Menak Jinggo Bukanlah Tokoh Sejarah

Cerita Damarwulan Menak jinggo amat disenangi oleh penduduk Banyuwangi,. Cerita ini selalu dipentaskan oleh perkumpulan teater tradisional yang bernama “Janger Bali” atau juga disebut teater Damarwulan. Di jaman pemerintahan Hindia Belanda, ada dua perkumpulan teater Damarwulan ini,masing-masing dari desa Kelembon yang dipimpin oleh Madarji dan dari desa Dandangwiring (Penganjuran) yang dipimpin oleh Abdallah.Saking asiknya dengan cerita Damarwulan Menakjinggo sampai-sampai karya sastra ini dengan tokoh tokohnya dipercaya sebagai tokoh sejarah.

Naskah serat Damarwulan yang dianggap paling kuno lahir pada tahun 1748 di jaman Pakubuono II. Kemudian dari naskah ini lahirlah naskah-naskah lain yang dikembangkan oleh pujangga pada jaman itu. Dan yang sering dimainkan oleh perkumpulan teater di Banyuwangi, juga naskah-naskah yang telah di kembangkan itu. Dimana menyebutkan bahwa prabu Menakjinggo adalah putra Kebo Macuwet, sedang Kebo Macuwet itu diciptakan dari sebuah batu oleh tokoh sakti Ajar Pemanggar. Dari sini kentara sekali bahwa tokoh Menakjinggo merupakan karya sastra.

Seorang tokoh penulis "Babad Blambangan" yang bernama Achmad Aksoro, menulis cerita “Lahirnya Macuwet”yang ditulis dalam bahasa Banyuwangi dengan judul “Lahire Macuwet”. Dalam kata pengantarnya (Ater-ater) menulis sebagai berikut;

“Tahun 1920 Mbah Madaiji ngedegaken seni drama “Damarwulan” kang nyeritakaken cerita “Babad Blambangan” gaweane wong Blambangan dhewek. Kang nyebutaken ratu Blambangan iku Prabu Bre Wirabumi.suwiji dina penguasa penjajah welondo iku,dikongkon main nong pendapa Kawedanan. Serta wis mari main,Mbah Darji diceluk ambi Wedana dikongkon nggawa lontar Babad Blambangan kang dilakokaken mau bengi, Sakwise teka Kawedanan lontar iku dijaluk, jare lontar iku sing cocog lan sing oleh diceritakaken maning merga isine ngelawan pemerintah Hindia Belanda. Terus disiluri kitab Babad Blambangan kang isine mulai lahire Prabu Macuwet, lahire Prabu Menakjinggo lan sak teruse kaya kang dilakokaken ketoprak-ketoprak ika.

Waktu perayaan lahire ratu Wilhelmina tanggai 30 Agustus 1930, seni drama Damarwulan diundang dikongkon main nong pendapa Kawedanan Banyuwangi. Waktu iku hang ndeleng akeh pembesar-pembesar Welanda, antarane asisten Residen Besuki kang ong Banyuwangi.

Lakon kang dienggo dimainaken nurut kitab Babad Blambangan kang diwani Wedana ika. Serta wis mari main oleh pirang ulan Mbah Darji diceluk nong pendapa kabupaten Banyuwangi, terima piagam penghargaan teka ratu Welonda Wilhelmina kang ana ring negara Welanda. “

Jelas bahwa lakon-lakon Menakjinggo yang dimainkan oleh kumpulan teater Damarwulan,naskah yang dari pejabat pemerintah Hindia Belanda yang mungkin banyak penyimpangan/pengembangan dari naskah asli yang ditulis oleh pujangga di jaman Paku buana II memerintah. Sehingga seorang pakar seperti Prof. DR. Slamet Moeljana mengatakan “Mangkatnya Ranggalawe dalam cerita Damarwulan, jelas berbeda dengan uraian serat Ranggalawe. Dari situ nyata bahwa penggubah cerita Damarwulan itu tidak mengenal serat Ranggalawe, apalagi sejarah Majapahit pada jaman pemerintahan Sri Kertarajasa, sedang Damarwulan dipandang sebagai Brawijaya VI (?). Brawijaya VI merupakan akhir keruntuhan Majapahit, yang diserang oleh tentara kesultanan Demak. Bahkan saya sendiri sering terkecoh seakan Menakjinggo itu merupakan profil Bre Wirabumi. Mengingat cerita Damarwulan dan Menakjinggo itu ada kemiripan dengan sejarah perang Paregreg dalam kemelut dikerajaan Majapahit.

Soenarto Timur seorang tokoh teater di Surabaya, dalam bukunya "Damarwulan sebuah lakon wayang Krucil” menulis sebagai berikut:

“ada yang beranggapan, bahwa ratu Kencanawungu itu tidak lain adalah putri Suhita,Menakjinggo adalah Bre Wirabumi,sedang Damarwulan adalah Raden Gajah. Sejarah Majapahit menuturkan adanya perang pemberontakan Bre Wirabumi dari Blambangan, melawan pemerintah pusat,yang terjadi pada tahun 1404-1406 dan terkenal dengan nama perang Paregreg. Tapi motif pemberontakan ini adalah merebut tahta kerajaan.Bukan karena Wirabumi meminang Prabu Suhita, yang kemudian ditolak seperti digambarkan dalam tokoh Menakjinggo meminang ratu Kencanawungu. Lagi pula hal demikian itu mustahil, sebab menurut silsilah, ibunda ratu Suhita adalah Bre Mataram, sedang Bre Mataram adalah adalah putri Bre Wirabumi yang yang diperistri selir oleh Wikramawardana. Jadi prabu Suhita adalah cucu Bre Wirabumi.”

Kemudian Soenarto Timur mengutip pendapat DR. Stutterhem, bahwa sang doktor menduga Damarwulan adalah Kertawardana, suami prabu Tribuana Tunggadewi yang dilukiskan sebagai Kencana wungu.Menakjinggo adalah Adipati Sadeng. Layang Seta dan Layang Kumitir kedua saudara Anjasmara (seperti dituturkan dalam sejarah Anjasmara ini menjadi selir Kertawardana adalah gambaran kembar dalam Pararaton).

Soenarto Timur membantah kebenaran dugaan DR. Stutterhem, hal ini bila dikonfrontasikan dengan dengan sejarah tak sesuai sama sekali. Walau disana sini ada persamaan jalan ceritanya.Dan Adipati Sadeng yang bermukim di wilayah Besuki sama dengan Adipati Blambangan yang memberontak terhadap Majapahit. Hanya pemberontakan Adipati Sadeng ini pagi-pagi telah dipadamkan oleh Gajahmada,sedang pemberontakan Adipati Blambangan meluas dan banyak jatuh korban.

Akhirnya Soenarto Timur sampai pada kesimpulan mengenai cerita rakyat Damarwulan itu sebagai berikut:

“Kalau pendapat ini diterima, sampailah kita pada kesimpulan bahwa kisah Damarwulan bukanlah peristiwa sejarah, melainkan karangan khayal (fiktif). Sebuah karya sastra seorang pujangga yang telah mendapat ilham dari peristiwa perang Paregreg atau perang Sadeng,salah satu atau kedua-duanya. Dengan demikian maka usaha mengkait-kaitkan atau mengidentifikasi Damarwulan dengan peristiwa sejarah akan sia-sia.Salah-salah bahkan
mengaburkan atau menghilangkan amanat sang pujangga yang ingin menyampaikan kepada masyarakat bangsanya”.

Maka paham orang-orang Banyuwangi yang sampai hari ini, Adipati Menakjinggo sebagi tokoh sejarah harus segera diakhiri. Bagaimanapun juga cerita Menakjinggo itu adalah karya sastra.Dengan sendirinya tokoh-tokoh yang diceritakan adalah tokoh-tokoh rekaan (khayal).Demikian tokoh-tokoh seperti Gatotkaca, Ontoboga dan sebagainya adalah tokoh-tokoh karya sastra yang diekspresikan kedalam bentuk lakon wayang. Rasanya kita akan bersalah pada generasi muda kita dikemudian hari, bila tokoh tokoh khayal itu kita sulap sebagai tokoh sejarah.Sedang tokoh-tokoh sejarahnya sendiri kita lupakan,bahkan kita gusur dari penulisan sejarah Banyuwangi.




Credit: Munawir - Banjoewangie Tempoe Doeloe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...