Langsung ke konten utama

Cinta? Kamu Datang Darimana?

Kamu pasti sering dengar pepatah begini, “Darimana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Darimana datangnya cinta, dari mata turun ke hati”. Ya, pepatah ini sepertinya udah berurat – akar. Diyakini sebagai bagian dari proses kehidupan yang mestinya terjadi. Meski dalam beberapa kasus, pepatah ini nggak berlaku. Lihat deh bagaimana dua sejoli yang (maaf) tunanetra. Bagi mereka tentunya cinta bukan datang dari mata turun ke hati. Tapi buat mereka, cinta bisa datang dari sebuah persamaan nasib, mungkin saja kan?


Memang Unik!


Memang unik rasa cinta itu. Datang bisa tiba – tiba, pergi pun nggak pamit dulu. hilang begitu aja. Lucunya, sering kali banyak dari kita yang malah nggak menyadari kehadiran cinta. Jika kita suka kepada seseorang, sering kali dianggap sebatas suka aja, belum cinta. Padahal, siapa tahu itu adalah awal dari cinta. Ketika di sekolah ada seseorang yang kinclong (panci kali! 😁) dan mampu melumerkan kerasnya hati kita, maka kita sudah berada di sebuah gerbang rasa cinta.

Pasti datang disaat kita membutuhkannya.


Wahai sahabat, cinta bisa datang pada saat yang nggak kita harapkan. Bahkan menurut kita sangat nggak tepat. Waktu kita sekolah, rasa cinta itu sudah muncul. Sebenarnya sih sah-sah aja. Tapi yang nggak sah adalah cara mengekspresikan di jalan yang salah. Jika demikian, cinta telah dijaikan alasan untuk berbuat atas nama sebuah kerusakan, bukan kecintaan. Gimana nggak, kamu bisa renungkan, jika cinta itu suci dan seputih melati, mengapa harus dinodai dengan sebuah kebusukan, yang pura – pura atas nama cinta ketika melakukannya. Itu sebabnya, aku sering bingung sendiri kalo ada temen cewek yang rela memberikan keperawannya, rela direnggut kehormatannya, rela dinodai kesuciannya oleh siapa? yup! sang pacar!, lalu bilang, “pengorbanan ini sebagai tulusnya rasa cintaku”. Kalau buat suami mah halal dan juga beribadah. Untuk sang pacar? Astagfirullah... ! Pikir lagi girls!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...