Langsung ke konten utama

Kalau Sudah Cinta, Jadi Lupa Segalanya

Katanya Budhe Titiek Puspa sih, jatuh cinta berjuta rasanya. Nano – nano saja sampe kalah rame rasanya. Ada senang, sedih, suka, benci, rindu, tersipu, malu, sampe yang malu – malu tapi mau. Semuanya tumplek jadi satu di hati orang yang sedang dimabuk asmara. Senang bisa deket sama gebetannya. Sedih kenapa nggak jadian jadian. Suka dengan tingkah laku pasangannya yang seolah nggak ada jelaknya (husnudzan every day). Benci, tapi plesetan dari benar – benar cinta (lho?). Rindu, udah pastinya kalo udah terpisah sama doi. Padahal sih si doi cuma ijin ke toilet doang hihihi 😀. Tersipu malu tapi mau dengan munculnya warna merah muda di pipi yang bikin salting alias salah tingkah. Nah kalo udah gini, siapa yang mau hatinya disterilkan dari dunia merah muda bahagia ini?

Yang pasti semua orang pengen selalu punya rasa cinta ini. Ya iyalah. Karena ada rasa cinta, menunjukkan kita masih hidup dan selalu bikin hidup penuh warna. Nggak percaya? Coba deh tanya ke penghuni perumahan masa depan berbatu nisan alias kuburan. Pasti deh mereka diam saja tanda mereka setuju. Yee... kalo mereka jawab, kitanya yang keblabakan 😀.

Jadi lupa sama yang laen


Sayangnya, banyak sekali temen - temen kita yang udah keblabasan menunjukan dan memanjakan rasa ini. Coba deh ingat lagi histori kita atau temen kita saat hati tertembak panah asmara. Aktivitas harian terasa dalam kado warna merah muda bernuansa cinta. Dari bangun, melek, e’ek, sampe tidur lagi dipikiran cuma ada sang pujaan hati. Urusan sekolah, kuliah, lingkungan, keluarga sampe kalah perhatian dibanding terhadap sang gebetan.

[caption id="" align="aligncenter" width="670"]demi cinta sampe ke dukun Cinta ditolak, dukun beranak[/caption]

Demi cinta, orang bisa berbuat apa saja


Yap, demi cinta, orang bisa berbuat apa saja. Dari yang gokil hingga yang amoral. Semuanya dijabanin demi senyum manis yang bikin hati meringis, ciuman hangat ataupun pelukan yang mesra sangat dari sang pacar. Setiap hari selalu pengen dekat. Yaa sedekat Naruto dan Hinata atau emak – emak dengan remote tv-nya. Dibela bela ini nunggak SPP biar bisa ngajak doi candle light dinner di Skyroom dan ngemil pisang goreng Yu Sri. Di matanya, sang pacar ataupun gebetan selalu begitu perfect. Selalu ber-husnudzan. Sampe males pisah lama – lama. Pengennya deket mulu. Nggak di BBM, Line, Whatsapp, e-mail, sekolah atau di kuliah. Dunia serasa milik berdua. Yang lain? nge-kost semua hehehe 😀.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...