Langsung ke konten utama

Kenapa Aku Bisa Sayang Kamu? Karena Ada Rasa Saling Memiliki

Kata om Sternberg sih, Cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan (e-psikologi.com). Fiuuh kutipannya memiliki arti yang kompleks, tapi benar kan? 😊

Jadi, sangat boleh ungkapan om Stenberg di atas ini benar adanya. Sebab, semua kisah yang dialami seseorang pasti akan mempengaruhi kehidupan dan tindakan dalam sebuah hubungan. Andai hubungannya aman, damai, tenteram, gemar ripah loh jinawi di antara kedua belah pihak, maka sudah dipastikan akan bagus dan mungkin berniat melanjutkan ke level yang lebih tinggi, yaitu berhubungan untuk saling memiliki satu sama lain. Di saat yang seperti inilah rasa sayang akan muncul, bahkan sang bisa mendominasi perasaan kalian.

Untuk bisa memiliki-mu, apa yang harus sudah aku miliki?


Sebagaimana dalam sebuah persahabatan, yang kita miliki adalah komitmen dan keintiman untk membina hubungan itu. Kita punya komitmen untuk menjaga agar persahabatan tidak bubar, dan kita pun punya keintiman sebagai pengikat agar tali persahabatan tetap terikat erat. Kalau begini, akupun jadi sibuk rasanya sangat wajar, wajar banget lah, kalo kita pasti punya rasa memiliki. Kita merasa kehilangan kalo si doi tidak masuk kuliah atau tidak hadir dalam suatu rapat atau pengajian. Bahkan ketika harus berpisah pun rasanya sedih gimana gitu. Jadi gak usah kaget, mungkin kamu pernah melantunkan “doa perpisahan” yang kaya gini,

Pertemuan kita disuatu hari, menitikkan ukhuwah sejati, bersyukurku kehadirat Ilahi di atas jalan suci ini. Namun kini perpisahan yang terjadi, cobaan terus menimpa diri, bersabarlah jiwa diatas suratan, ku tetap pergi juga.”



Ah jadi sok puitis hehehe 😁 .

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.


HR Bukhari-Muslim

Nah loh benar kan, kalau sudah merasa satu tubuh, maka sangat bisa dipastikan kalau kita merasa saling memiliki. Betul?

Kembali ke laptop soal hubungan antara lawan jenis. Karena sejatinya manusia itu “diprogram” oleh Allah swt., maka potensi dasar kehidupannya pasti sama. Bahwa dia memiliki kebutuhan jasmani, memang sama. Tapi tiap orang akan berbeda dalam cara memenuhinya. Begitu pun Allah memberikan naluri melestarikan keturunan yang sama kepada setiap manusia, salah satunya lewat naluri melestarikan keturunan yang ditampakkan lewat rasa cinta. Perbedaannya pada setiap manusia hanya soal cara pemenuhannya. Oya, perlu diingat bahwa setiap sikap manusia dalam mengelola nalurinya juga sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup masing-masing.

Itu sebabnya, walau kita punya rasa suka, punya rasa sayang, dan bahkan kepengen saling memiliki dengan lawan jenis kita, tapi pastikan bahwa itu disalurkan dalam pemenuhannya kepada jalan yang benar, sesuai perintah dan bimbingan Allah swt. Dan Rasul-Nya. Nggak liar kaya binatang. Malu dong sob, soalnya kita kan diberi akal untuk bisa menentukan mana yang salah dan mana yang benar sesuai aturan yang sudah digariskan dari pencipta kita, Allah swt. InsyaAllah, akan lebih detail di tulisan selanjutnya. Jadi sabar terusin bacanya yaa.. hehehe masih semangat kan? Semangat!!! 😊.

Komentar

  1. Halo.. terima kasih buat tipsnya. tapi tidak semua orang yang merasa satu tubuh dengan pasangannya dapat menjaga tubuh itu baik2. ada yang karena ia merasa itu adalah tubuhnya, lantas bertindak semaunya karena merasa memiliki hak atas itu. lalu apa yang harus dilakukan keduanya?

    BalasHapus
  2. Dalam suatu hubungan yg baik adalah saling memiliki, perumpamaannya adalah sebagai satu tubuh. Apabila salah satu sedang sakit maka yg lain pasti akan merasakan sakitnya. Contoh jika seorang anak sedang sakit, maka ibu/bapaknya pun merasakan sakit sang anak, bahkan jika bisa sakit itu dipindah ke ibu/bapak anak tsb. Hal ini karena ibu/bapak tsb merasa memiliki tubuh si anak sehingga sakitnya pun terasa. Nah, jika dalam suatu pasangan tidak bisa menjaga tubuh (red: hubungan) maka salah satu tidak merasa memiliki tubuh tersebut. Hal yg harus dilakukan adalah introspeksi dulu apakah visi dalam menjalin hubungan sudah sama, jika belum sama kan terlebib dahulu. Jika tidak bisa untuk sama, tinggalkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...