Langsung ke konten utama

Kenapa Aku Bisa Sayang Padamu?

Aku sering bermain dengan sahabat-sahabatku. Saking seringnya, aku kenal satu per satu kebiasaan mereka, sampai hafal gimana kondisi sahabatku. Aku tahu apa yang membuat sahabatku bisa merasa bahagia, dan hal apa saja yang membuat sahabatku sedih. Itu karena sering bertemu dan bermain. Kita saling cerita dan bahkan saling menggangu. Kebersamaan inilah yang membuat aku mengenal karakter sahabatku satu per satu. Kebersamaan pula itulah memunculkan rasa sayang, meski adakalanya jika aku di­-bully ­juga bisa jadi kesal. Intinya, kalau kita sering bersama, sering bertemu, nggak mustahil bakalan muncul rasa suka dan rasa yang lebih jauh dari rasa suka, yakni rasa cinta dan rasa sayang.
Cinta yang belum dewasa mengatkan,’ Aku mencintaimu karena membutuhkan.’ Cinta yang dewasa mengatakan, ‘Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.
-Erich Fromm

Awalnya itu rasa suka!


Rasa suka biasanya merupakan penampakan awal, karena level berikutnya akan ditingkatkan menjadi rasa sayang. Karena kita sudah tahu segalanya tentang orang yang kita sayangi. Rasa ini bisa muncul kapan saja, tentunya saat rasa suka kita mulai merayap ke level penuh perhatian. Dari simpati, empati, dan akhirnya jatuh hati. Wadau. Itu wajar kok.

Alasan kenapa bisa sayang?


Kalau ditanya, kenapa bisa sayang? Sebenarnya agak susah jawabnya. Karena tak selamanya jagung itu dibakar alasan tunggal yang jadi penyebabnya. Tapi menurutku, rasa ini bisa muncul karena kita sudah saling bertemu dan merasakan empati atas segala dinamika kehidupan yang tidak saja mampu didengar, tapi juga dirasakan. Itu *sambil menirukan logat Mario Teguh*. Kita mulai merasa kedekatan dengannya, merasakan ketertarikan kepadanya, akhirnya sayang kepadanya. Kasih sayang itu ingin rasanya dicurahkan kepada dia seorang.
Rasa ini bisa muncul karena kita sudah saling bertemu dan merasakan empati atas segala dinamika kehidupan yang tidak saja mampu didengar, tapi juga dirasakan.

Padahal, sebelumnya sama sekali kita tak pernah memimpikan memiliki rasa khawatir kepada lawan jenis. Semua lawan jenis di kelas kita anggap sama saja dengan yang lain. kita berpikir tak perlu rasanya mengkhawatirkan karena kita hanya sebatas teman biasa. Tapi ketika virus merah jambu berbuah di hati, maka kita mulai memikirkan seseorang yang kebetulan menarik hati kita. Dari sekedar suka, lalu sayang dan rasanya ingin memilikinya. Bahkan ujug-ujug merasa perlu untuk meng-khawatir-kannya. Nggak salah lagi, itu namanya kamu sudah sayang kepadanya!. Selamat yaa 😊.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Asal Usul Banyuwangi

Bagaimana asal-usul Banyuwangi? Kalau jawaban yang anda harapkan adalah rujukan sejarah, yang akan anda temui hanyalah rasa frustasi. Tak ada rujukan tertulis dalam laporan resmi Belanda (misalnya dari regent Banyuwangi ke gubernur jenderal di Batavia) atau catatan pribadi tentara Belanda atau tentara Inggris (yang juga pernah menduduki Banyuwangi).

Komponen Komunikasi Public Speaking - Bagian 1

Kesempatan sebelumnya, kita sudah membahas apa arti public speaking , apa persamaan public speaking dan conversation , apa strategi , dan yang juga hal yang sangat mendasar adalah dalam mendasari interaksi kita adalah persepsi, Anda masih in>Pertemuan kali ini kita akan membahas masalah komunikasi. Komunikasi dalam public speaking dapat dilihat dari sisi komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Kemarin kita sudah membahas komunikasi verbal dan non-verbal sedikit. Jadi misalnya kalau verbal itu lewat kata-kata dan kalau non-verbal adalah seluruh gerakan anggota tubuh, serta intonasi, dan sebagainya. Nanti kita akan bahas juga.