Langsung ke konten utama

Pacaran, Kegiatan Fenomenal yang Perlu Kamu Tahu

Jaman milenium sekarang ini informasi mengenai pacaran dan semua lika - likunya seperti sudah menjadi santapan sehari - hari. lewat media elektronik, sampai media cetak yang nggak mau ketinggalan membahas kegiatan ini. Semuanya ikut ngurusin perlaku orang yang sedang memadu kasih. Mulai dari suka duka, manfaat, sampai alasan kuat yang bisa memotivasi kamu untuk tidak terus menjomblo. Pokoknya lengkap deh info tentang pacaran.

By the way, aku ingin tanya, ada yang tau nggak, asal usul pacaran itu? Hmm... kok nggak ada yang angkat tangan? memang nggak tau atau pura - pura nggak tau nih..hehehe.... :D
Padahal sedikit sekalu ilmu yang kita tahu mengenai siapa pacaran ini. Kita sama sekali nggak tahu riwayat hidupnya, sekolah di mana, ibunya, bapaknya, tempat tinggalnya, kok bisa sampai populer kayak sekarang. Hayooo :D

Kita suka terbawa arus gosip yang ada di infotainment.


Istilah pacaran memang sudah nggak asing di telinga kita. Sayangnya, istilah kata pacar-an ini masuk tanpa asal usul yang jelas. Kok bisa - bisanya masuk ke perbendaharaan kata kita. Hal inilah yang menjadi alasan kita tidak tahu riwayat hidupnya.
Kenalan dulu yuk sama si pacaran

Kalau kata mbah KBBI sih, yang dimaksud pacar (kb) adalah belahan diri, belahan jiwa, biji mata (what?), bunga hati, cahaya mata, gacoan, kekasih, kesayangan, mahkota hati, mahkota jiwa, pujaan hati, sukaan, tajuk mahkota, tambatan hati. Hmm.. Berarti istilah pacaran itu adalah kumpulan aktivitas yang dilakukan cewek/cowok yang mengekspresikan rasa cinta di antara mereka. Udah benar belum gan? hehe.. :D Kalau dalam bahasa "Planet Blambangan" alias Osing, disebut demenan. Berasal dari kata demen yang berarti suka atau lebih tepatnya rasa suka. Nah, kalau orang Sunda bilangnya bobogohan. Jangan tanya asal katanya dari mana yah.. aku bukan orang Sunda soalnya hihih :D

Yang aku yakin sih istilah ini bukan lahir dari lingkungan sekitar kita. Soalnya, menerut aku sih pacaran ini bertentangan dengan norma budaya Timur yang kita anut sehari - hari. Dalam budaya kita nggak diajarin pergaulan bebas antara lawan jenis kaya sekarang. Apalagi sampai nyrempet atau bahkan terjebak dalam budaya seks bebas. idiih.. Naudzubillah mindzalik.. Yang ada cuman sebatas ekspresi cinta yang wajar tanpa menyentuh daerah *ehem* esek - esek. Nggak percaya? coba deh tanya kakek - nenek atau orangtua kita.

Setelah aku teliti lebih dalam *duh lebay*, ada satu kesamaan anatara aktivitas pacaran jaman orangtua kita dulu dengan jaman sekarang. Apa hayoo? Jawabannya adalah, dua - duanya sama - sama hubungan gelap. Lah? kok gelap? nggak kelihatan dong? Haha.. memang itulah yang dicari :D Untuk mengekspresikan cinta, para anggota Front Pembela Pacar lebih menyukai suasana gelap gulita. Biar nggak malu kalau dilihatin satpam atau hansip gitu... :D

Nah, di atas kan sudah paham kalau pacaran itu adalah hubungan gelap, berarti komitmen di antara dua insan ini nggak terang-terangan *you don't say! :v *. Maksud aku ikatan di antara mereka ini cuman diikat dan diperkuat sama perasaan cinta yang abstrak dan hampir nggak teraba. Nggak ada bukti kongkrit hitam di atas putih. Yang artinya tidak memiliki kekuatan hukum. Nggak heran dong kalau hubungan ini jadi putus-nyambung kaya lagunya Tante Melly Goeslaw.

[caption id="" align="alignnone" width="1185"]putus - nyambung putus - nyambung terus[/caption]

Dan hal ini kayanya sudah mejadi hal yang lumrah gitu. Meskipun sakit hati tapi apadaya tidak bisa diseret ke meja hijau. Nah, makanya kalau punya nyali terang-terang dong.. Bukan dengan pacaran, tapi pernikahan. Katanya cowok Umi*ld jantan. Berani?




Nah buat kamu yang berani, silahkan juga beranikan untuk komen di bawah dan memberikan tanggapan ini yaa? :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...