Langsung ke konten utama

Aku Punya Hak Mencintaimu

Aku dapati mimpi liar tak berujung,

seperti ombak yang terus menerjang.
Tak peduli seberapa keras dunia mencoba membungkam,
aku tetap berdiri, menantang badai,
karena di celah bayang,
aku punya hak mencintaimu.

Langit malam tak lagi sunyi,
bisikan kita memecah gelap.
Gumpalan rindu terbakar api,
menari di antara kelam dan nyala.
Jiwa ini takkan tunduk, takkan layu.
Cinta ini bukan permohonan—
ia adalah hak yang kupeluk dengan seluruh napasku.

Di pelarian waktu yang menghimpit,
aku temukanmu di antara nada.
Suara saxophone menggema dalam kabut,
melodi gitar memetik harapan.
Kita berduet dalam nada jiwa,
berputar dalam simfoni yang tak mengenal akhir.

Langkahku takkan pernah terhenti.
Aku tak akan bertanya apakah cinta ini diizinkan,
karena aku tak butuh izin untuk merasa.
Kita akan selalu menari dalam badai,
mengukir jejak di tanah yang bergetar.

Pejamkan mata, selimuti rasa,
karena meski dunia menolak,
aku punya hak mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...