Langsung ke konten utama

Ternyata Benar

Dalam bayang malam yang sunyi,

kau terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
Tak sadar ada luka yang kau tinggalkan,
tak paham ada hati yang kau abaikan.

Kau tertawa saat dingin menusuk,
membiarkan udara menggigil tanpa suara.
Namun di balik senyum yang kau suguhkan,
tersimpan perih yang tak terucap,
tersisa pahit yang selalu kau ingat.

Ternyata benar—
kau tak sadar telah melukai.
Tak pernah kau tahu, tak pernah kau peduli.
Namun saat kau sendiri, remuk dan patah,
justru kenangan yang kau lupakan datang kembali.
Malam yang pilu akhirnya mengingatkanmu,
betapa luka itu bukan hanya milikku.

Di balik gelap, senyum itu memudar,
dan perlahan semuanya menjadi jelas.
Kilauan kenangan semakin kabur,
rasa kecut yang kau hirup diam-diam.
Tak pernah kau lihat luka yang cair,
sebab hatimu telah membeku terlalu lama.

Ternyata benar—
kau tak sadar telah melukai.
Dan kini, dalam keheningan yang sama,
kau terjebak dalam luka yang tak terlihat,
tergugu dalam rindu yang tak bisa kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...