Langsung ke konten utama

Ternyata Benar

Dalam bayang malam yang sunyi,

kau terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
Tak sadar ada luka yang kau tinggalkan,
tak paham ada hati yang kau abaikan.

Kau tertawa saat dingin menusuk,
membiarkan udara menggigil tanpa suara.
Namun di balik senyum yang kau suguhkan,
tersimpan perih yang tak terucap,
tersisa pahit yang selalu kau ingat.

Ternyata benar—
kau tak sadar telah melukai.
Tak pernah kau tahu, tak pernah kau peduli.
Namun saat kau sendiri, remuk dan patah,
justru kenangan yang kau lupakan datang kembali.
Malam yang pilu akhirnya mengingatkanmu,
betapa luka itu bukan hanya milikku.

Di balik gelap, senyum itu memudar,
dan perlahan semuanya menjadi jelas.
Kilauan kenangan semakin kabur,
rasa kecut yang kau hirup diam-diam.
Tak pernah kau lihat luka yang cair,
sebab hatimu telah membeku terlalu lama.

Ternyata benar—
kau tak sadar telah melukai.
Dan kini, dalam keheningan yang sama,
kau terjebak dalam luka yang tak terlihat,
tergugu dalam rindu yang tak bisa kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komponen Komunikasi Public Speaking - Bagian 1

Kesempatan sebelumnya, kita sudah membahas apa arti public speaking , apa persamaan public speaking dan conversation , apa strategi , dan yang juga hal yang sangat mendasar adalah dalam mendasari interaksi kita adalah persepsi, Anda masih in>Pertemuan kali ini kita akan membahas masalah komunikasi. Komunikasi dalam public speaking dapat dilihat dari sisi komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Kemarin kita sudah membahas komunikasi verbal dan non-verbal sedikit. Jadi misalnya kalau verbal itu lewat kata-kata dan kalau non-verbal adalah seluruh gerakan anggota tubuh, serta intonasi, dan sebagainya. Nanti kita akan bahas juga.

Cerita Lain dari Minak Jinggo yang Harus Kamu Ketahui

Damarwulan adalah seorang tokoh legenda cerita rakyat Banyuwangi . Kisah Damarwulan ini lumayan populer di tengah masyarakat dan memiliki banyak versi. Baik versi dalam bentuk sendratari maupun cerita yang tertulis. Umumnya kisah-kisah tersebut didasarkan pada Serat Damarwulan yang diperkirakan mulai ditulis pada masa akhir keruntuhan Majapahit.