Langsung ke konten utama

Sepatu Cinderella: Cinta yang Tak Harus Kembali

Ada dongeng tentang sepatu kaca yang tertinggal di tangga istana, tentang pangeran yang bersikeras mencari pemiliknya. Tapi ini bukan cerita itu. Ini bukan tentang putri yang akhirnya menemukan cintanya. Ini tentang seseorang yang memberikan segalanya, hanya untuk ditinggalkan tanpa alasan.

Kamu bukan Cinderella, dan dia bukan pangeran.

Kamu berdiri di altar hati yang retak, berharap ia akan kembali menggenapi janji yang tak pernah diucapkan. Kamu pikir cinta adalah soal memberi, soal menyerahkan dunia tanpa meminta apa-apa kembali. Tapi lihatlah, dia pergi tanpa jejak, seolah cinta yang kau taruh di telapak tangannya hanyalah debu yang mudah ditiup angin.

Di matanya, kamu hanyalah bunga yang ranum tanpa taman—indah, tapi tak pernah cukup untuk membuatnya menetap. Kamu memberi segalanya, mengulurkan hatimu yang telanjang tanpa perlindungan, tapi yang ia lakukan hanya menatap kosong, membeku di dalam kebisuan yang mematikan.

Semesta seolah berkonspirasi mengejekmu. Kamu memohon, berharap satu tatapannya bisa membuatmu merasa cukup, tapi dia sudah terlalu jauh berlayar, terlalu sibuk mencintai dirinya sendiri.

Dan akhirnya, kamu harus menerima kenyataan pahit ini:

Cinta sejati bukan soal memberi segalanya.
Cinta sejati bukan tentang seberapa keras kamu berjuang.
Jika dia tak mengerti, jika dia tak ingin memahami,
Maka belajarlah… kadang cinta tak harus kembali.

Kini kau tahu, dongeng tak selalu berakhir bahagia.
Kadang, kau bisa saja telanjang di hadapan seseorang,
Dan tetap merasa tak berarti.

Di bawah lembayung yang muram dan mati,
Cinta sejati? Entah kapan berani mendekati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Selamat Wisuda

Hari ini tiba, detik yang dinanti. Jalan kita beriring, kini harus terbagi. Bersama, kita telah menempuh samudera ilmu, berlayar di bawah langit biru yang penuh asa. Tawa kita pernah bergema di sudut kelas, di malam-malam panjang yang penuh perjuangan. Tapi kini, tibalah saatnya untuk melangkah jauh—ke arah yang berbeda, dengan hati yang penuh harap. Di ujung senja, kita kan berjumpa. Meski jalan ini membawa kita ke arah yang berbeda, kenangan ini abadi, meski tak lagi sama. Aku tahu, kita akan selalu satu rasa. Sebab jejak kita telah terukir dalam setiap langkah pertama yang kini harus kita tapaki sendiri. Mungkin, ada air mata yang tertahan. Mungkin, ada rindu yang diam-diam berbisik dalam hati. Tapi kita adalah bintang yang pernah bersinar bersama, dan sinarmu akan selalu kurasa, meski dari kejauhan. Meski kita terpisah, takdir tak bisa dihalang. Kenangan ini akan selalu menjadi rumah, tempat hati kita kembali. Selamat wisuda, anak-anakku yang tercinta. Kita kan bertemu lag...

Asal Usul Banyuwangi

Bagaimana asal-usul Banyuwangi? Kalau jawaban yang anda harapkan adalah rujukan sejarah, yang akan anda temui hanyalah rasa frustasi. Tak ada rujukan tertulis dalam laporan resmi Belanda (misalnya dari regent Banyuwangi ke gubernur jenderal di Batavia) atau catatan pribadi tentara Belanda atau tentara Inggris (yang juga pernah menduduki Banyuwangi).