Langsung ke konten utama

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Masih enggan untuk shalat berjamaah di masjid? Padahal setiap langkah kaki menuju ke masjid utk shalat dihitung dua keutamaan
via satu jam.com
"Barang siapa yang bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju rumah Allah utk menunaikan kewajiban yg telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapus dosa dan langkah yang lain akan meninggikan derajatnya" (HR Muslim No 1553)

Masih enggan untuk shalat berjamaah di masjid?

Padahal setelah masuk masjid, selama kita ada di dalamnya maka dihitung seperti shalat terus-menerus,
"...Apabila telah masuk di masjid, selama ia masih di dalam masjid, maka dihitung seperti shalat terus menerus..." (HR Bukhari No 647 dan Muslim No 272)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Padahal Malaikat mendoakan selalu orang2 yang duduk menunggu shalat di masjid,
"...dan para Malaikat mendoakannya selama ia duduk menanti shalat. Para Malaikat berdoa "Ya Allah, rahmati dia, ampuni dia, terimalah tobatnya" terus-menerus selama dia tidak berbuat aniaya dan tidak batal dari hadats" (HR Bukhari No 647 dan Muslim No 272)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Padahal salah satu waktu mustajab utk berdoa adalah antara adzan dan iqamah,
"Sesungguhnya doa yg tidak tertolak adalah doa diantara adzan dan iqamah, maka berdoalah" (HR Ahmad No 3/155)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Padahal Allah akan mengampuni dosa2 seseorang yang telah lalu jika perkataan aamin dalam shalatnya bersamaan dengan malaikat,
"...Karena sesungguhnya barang siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR Bukhari No 782, 4474 dan Muslim No 410)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Padahal shalat jama'ah isya dihitung pahalanya seperti shalat terus-menerus selama separuh malam, dan shalat jama'ah subuh dihitung pahalanya seperti shalat semalam suntuk,
"Barangsiapa yg shalat isya berjama'ah, maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yg shalat subuh berjama'ah, maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya" (HR Muslim No 656)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Padahal pahala shalat berjama'ah itu dilipatgandakan 27 kali,
"...Shalatnya orang yang berjama'ah melebihi shalatnya yg dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat" (HR Muslim No 1039)

Masih enggan untuk shalat jama'ah di masjid?

Silakan semua itu kita kalikan dengan perhitungan pahala yang Allah berikan pada bulan Ramadhan ini, dimana pahala ibadah sunnah dihitung seperti pahala ibadah wajib, dan pahala ibadah wajib dilipatgandakan 70 kali lipat daripada di luar Ramadhan,
"...Barang siapa yg melakukan ibadah sunnah di bulan itu (Ramadhan), pahalanya seperti melakukan ibadah wajib di bulan lainnya. Dan barangsiapa melakukan kewajiban di dalamnya (Ramadhan), maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya..." (HR Ibnu Huzaimah)

Sudah berapa kali lipatkah pahala kita digandakan oleh Allah hanya untuk shalat jama'ah di masjid?


Masih enggan untuk sholat berjamaah di masjid?

Segala puji hanya bagimu ya Allah, Engkaulah Dzat yang Maha Pemurah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...