Langsung ke konten utama

Dia yang Kau Rindu: Cinta yang Tak Pernah Berlabuh

Ada cahaya di matamu setiap kali kau bercerita. Sinarnya begitu sempurna, seolah dunia berputar di sekitar senyummu. Tapi di balik semua itu, aku tahu, aku bukan pusat semestamu. Aku hanyalah siluet yang kau lewati, seseorang yang mencintaimu dengan utuh, tapi tak pernah benar-benar kau pilih.

Aku di sini, memberikan segalanya—kata-kata hangat, genggaman yang erat, cinta yang tak bersyarat. Namun, saat malam menjemput dan sunyi mulai berbicara, aku tahu hatimu melangkah ke tempat lain. Ada seseorang di sana, seseorang yang selalu memenuhi benakmu. Namanya terukir di dalam ingatanmu, meskipun aku yang ada di sisimu.

Setiap tatapanmu, setiap senyuman yang kau berikan padaku, selalu terasa setengah hati. Aku melihatnya dengan jelas—saat kau mencoba tersenyum untukku, tetapi matamu melayang mencari sesuatu yang bukan aku. Aku ingin menutup mata dan berpura-pura, ingin percaya bahwa mungkin suatu hari kau akan melihatku dengan cara yang sama seperti kau melihatnya. Tapi kenyataan tak pernah sebaik itu.

Dan akhirnya, aku harus menerima bahwa aku hanya singgah, bukan tujuan akhir. Aku mungkin bisa menjadi tempatmu bersandar, tetapi tidak pernah menjadi rumah yang kau pilih untuk kembali. Cinta ini indah, tetapi tak akan pernah berlabuh.

Jadi, sebelum segalanya benar-benar berlalu, biarkan aku menyimpan senyuman terakhir darimu—walaupun aku tahu, senyum itu tak pernah sepenuhnya milikku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...