Langsung ke konten utama

Mungkin Kita Tak Akan Bicara Lagi

 Hening. Itu yang tersisa sekarang.

Dulu, malam-malam terasa lebih hangat dengan suaramu. Kita berbicara tentang segala hal—tentang hidup, tentang impian yang ingin kita kejar, tentang bulan yang seolah milik kita berdua. Kata-katamu seperti cahaya kecil di hatiku yang gelap. Aku tahu, aku bukan satu-satunya yang merasakan itu.

Tapi kemudian, semuanya berubah.
Tak ada lagi pesan panjang sebelum tidur, tak ada lagi tawa yang menyelip di antara keluhan hari yang melelahkan. Lambat laun, percakapan kita menjadi lebih jarang, lebih kaku, lebih hampa. Hingga akhirnya… sunyi sepenuhnya mengambil alih.

Aku sering bertanya-tanya, kapan sebenarnya kita berhenti? Apakah ketika pesan mulai dibalas dengan singkat? Atau ketika kita lebih banyak mengetik lalu menghapus, memilih diam daripada berbicara? Atau mungkin sejak hari itu—hari ketika kita membiarkan keheningan menjadi satu-satunya jawaban?

Sekarang aku hanya bisa menebak-nebak.
Mungkin kita tak akan bicara lagi.
Mungkin kau sudah tak ingin.
Atau mungkin, sama sepertiku, kau juga kadang masih merindukan percakapan itu, tetapi terlalu takut untuk memulai lagi.

Namun, satu hal yang kutahu pasti: kau tetap ada di dalam diriku.
Di sela-sela lagu yang tak sengaja kudengar. Di foto-foto yang masih tersimpan di galeri ponsel. Di setiap getar kecil di hatiku setiap kali melihat namamu muncul—entah di notifikasi, entah dalam pikiranku sendiri.

Meski dunia terus berputar, meski aku tahu kita mungkin tak akan kembali, aku ingin mengingatmu dengan cara yang baik. Sebab, meski tak lagi berbagi kata, kau tetap menjadi salah satu cerita yang paling indah dalam hidupku.

Dan aku bersyukur pernah mengenalmu, meski kini hanya dalam kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Selamat Wisuda

Hari ini tiba, detik yang dinanti. Jalan kita beriring, kini harus terbagi. Bersama, kita telah menempuh samudera ilmu, berlayar di bawah langit biru yang penuh asa. Tawa kita pernah bergema di sudut kelas, di malam-malam panjang yang penuh perjuangan. Tapi kini, tibalah saatnya untuk melangkah jauh—ke arah yang berbeda, dengan hati yang penuh harap. Di ujung senja, kita kan berjumpa. Meski jalan ini membawa kita ke arah yang berbeda, kenangan ini abadi, meski tak lagi sama. Aku tahu, kita akan selalu satu rasa. Sebab jejak kita telah terukir dalam setiap langkah pertama yang kini harus kita tapaki sendiri. Mungkin, ada air mata yang tertahan. Mungkin, ada rindu yang diam-diam berbisik dalam hati. Tapi kita adalah bintang yang pernah bersinar bersama, dan sinarmu akan selalu kurasa, meski dari kejauhan. Meski kita terpisah, takdir tak bisa dihalang. Kenangan ini akan selalu menjadi rumah, tempat hati kita kembali. Selamat wisuda, anak-anakku yang tercinta. Kita kan bertemu lag...

Perubahan Fisik, Fungsi, Dan Baku Mutu Yang Terjadi Di Pesisir Banyuwangi

Kian hari, kian bulan, kian tahun, pesisir di Selatan Jawa semakin tergambar jelas sebagai kawasan industri terlebih untuk sentra pertambangan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari Kepmen ESDM No. 1204 K/30/MEM/2014 Tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Pulau Jawa dan Bali.  Di dalam peta lampiran Kepmen tersebut secara jelas digambarkan bahwa seluruh kawasan pesisir Selatan Jawa ditandai dengan warna biru terang; warna yang menandakan kawasan pertambangan akan beroperasi. Ditambah adanya legitimasi dari peraturan – peraturan lainnya seperti UU No. 41 Tahun 1999, Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 dan PP Nomor 105 tahun 2015 yang mengatur tentang Kehutanan dan Penggunaaan kawasan Hutan. Artinya, kawasan lindung, hutan, pertanian dan pemukiman beserta seluruh makhluk hidup yang tersebar, membentang dan bermukim di seluruh pesisir selatan pulau Jawa, khususnya provinsi Jawa Timur, berada dalam ancaman yang serius. Lampiran dari Kepmen ESDM No. 1204 K/30/MEM/2...