Langsung ke konten utama

Desember

Hujan turun pelan, memeluk bumi yang lelah.
Langit menangis, tapi kita tetap bertahan.

Desember selalu bicara tentang akhir,
tentang resolusi yang hilang di tengah pasir,
tentang mimpi yang belum tercapai, langkah yang terasa berat,
tentang detik-detik yang membuat kita bertanya:
"Apa aku sudah cukup?"

Tapi bukankah Januari sudah kita lalui?
Bukankah langkah kecil juga berarti?
Tak perlu buru-buru merasa sempurna,
kadang luka perlu waktu untuk reda.
Jalani saja, beri ruang untuk bernapas—
hati ini kuat, meski pelan terasa lepas.

Desember, tak mengapa,
jika hujan masih turun tanpa tanda reda,
jika kita masih mencari arti, masih merasa kosong.
Kita ini manusia, bukan mesin rasa.
Semua butuh waktu, biarkan saja.

Desember, tak mengapa,
jika belum sampai ke puncak yang dicita,
jika masih ada sesak dalam dada.
Langkah kecil ini, sudah luar biasa.
Jangan lupa, kamu tak harus sempurna.

Bulan ini bukan tentang siapa yang menang,
tapi tentang perjalanan yang penuh tenang.
Kita semua punya musim untuk merasa,
dan tak apa jika hari ini hanya untuk jeda.

Semua punya waktunya—
untuk terpuruk, kehilangan, bahagia.
Jadi jangan memaksa senyum palsu.
Hatimu berhak untuk waktu yang jujur itu.

Dan saat Januari kembali memanggil,
kita akan siap, meski perlahan berjalan.
Desember, terima kasih sudah mengajarkan,
bahwa semua proses punya keindahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...