Langsung ke konten utama

Postingan

Damarwulan & Minakjinggo | Sebuah Pembohongan Sejarah

Tersebutlah seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu (Suhita: tahun 1429-1447). Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur, itu.

Minakjinggo Bukan Raja Blambangan

Stabilitas Majapahit sempat koyak akibat perang saudara selama lima tahun yang terkenal dengan nama Perang Paregreg (Majapahit vs Blambangan (1401-1406 M)). Peperangan ini terjadi karena kekecewaan Pangeran Aji Rajanatha (Bhre Wirabhumi II) karena Dewan Saptaprabhu Majapahit lebih memilih Bhre Mataram Pangeran Wikramawardhana sebagai raja menggantikan Hayam Wuruk. Mahapatih Gajah Mada sudah menjelaskan bahwa Pangeran Wikramawardhana (anak mantu baginda) tidak pantas sebagai putera mahkota, dan Pangeran Aji Rajanatha (anak kandung) baginda Prabu Hayam Wuruk jauh lebih berhak.

Sirna

 Ku terpuruk di sudut malam hitam, tak ada yang kucari, tak ada yang kurindukan. Lalu kau datang, seperti bayangan, menemukanku di tengah ketiadaan. Kata-katamu seperti kabut, tak pernah bisa kugenggam, selalu ada, tapi selalu menghilang. Aku pikir kau milikku, tapi takdir selalu punya cara untuk membawa pergi. Sirna. Kau datang saat aku tak peduli, saat hatiku gelap, tanpa warna, tanpa arti. Lalu kau pergi, saat aku hancur rindu. Kau satu-satunya yang kumau. Sungguh. Di sudut kota yang sepi, kenangan menari di atas aspal basah. Aku berjalan sendiri, menyusuri malam yang menolak lupa. Tanpa kau di sini, dunia terasa musnah. Tak ada lagi yang bisa kupegang. Hati terasa kosong dan hilang. Rindu ini terlalu tajam, menusuk hingga ke jiwa yang sepi. Kau pergi tanpa simpati. Dan aku, tinggal sebagai bayangan dari seseorang yang pernah memiliki.

Rip Current

Cinta ini seperti arus tak terlihat. Pelan, tapi pasti, ia menarikku ke pusat. Awalnya aku pikir hanya bermain air di tepian, tapi gelombangmu datang tanpa peringatan, menyelimuti, menyeret, menghisap, hingga aku kehilangan kendali atas kaki sendiri. Aku terjebak, tak bisa berenang. Semakin melawan, semakin aku tenggelam. Kau adalah lautan penuh teka-teki, permukaanmu tenang, tapi dasarmu menyimpan misteri. Aku pikir aku bisa mengendalikannya, menjaga jarak aman, tetap mengapung di atas rasa. Tapi kau bawa aku jauh, terlalu jauh dari garis pantai yang kusebut rumah. Seseorang pernah bilang, “Jangan melawan.” Mungkin benar, karena semakin aku coba melawan arus ini, semakin dalam aku jatuh ke cinta yang tak pasti. Namun, sampai kapan aku membiarkan diri hanyut? Jika cinta adalah laut tanpa pantai, mungkin aku hanya ingin pulang. Selesai.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...