Langsung ke konten utama

Gita Samudra

Pantai ini pernah menyimpan jejak langkah kalian—dua pasang kaki yang berlari di atas pasir, menciptakan jejak yang tak lekang oleh angin. Ombak pertama yang menghempas, adalah ombak yang mempertemukan dua hati, seperti dua kapal yang kebetulan berlayar dalam arah yang sama.

Di bawah langit senja yang menggantung rendah, kalian berdiri dalam diam, membiarkan angin laut membawa aroma cerita yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mencintai tanpa kepastian.

Tapi laut selalu berubah.

Pasang surut datang dengan tenang, lalu perlahan membawa segalanya pergi. Buih yang dulu bertaut kini tercerai, terhisap oleh arus yang lebih besar. Cinta kalian tak lagi sekuat batu karang—ia lebih seperti sedimen yang perlahan hanyut, terbawa ke muara perpisahan.

Laguna tempat kalian dulu berlabuh kini sunyi. Tak ada suara tawa yang dulu memenuhi udara, hanya hembusan angin katabatik yang mengingatkan bahwa segalanya telah berlalu.

Pantai ini ingin kalian tetap bersama,
Namun garis pantai merubah segalanya.

Di dasar samudra kenangan, cinta ini tenggelam perlahan, tak terusik, terjebak di antara rindu yang tak pernah diucapkan dan luka yang tak bisa dilupakan.

Namun pantai tetap ada.
Ia tak benar-benar melupakan, hanya belajar menerima.
Dan di setiap desiran ombak yang memecah,
Ia tetap merindukan kalian—seperti dulu, seperti selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Harus Tetap Berlabuh

Memang aneh ya, kebanyakan dari kita sudah cerasa cukup mencintai dalam doa pada “mode bayangan”, loh kok bayangan? Maksudnya

Takut

Ketakutan itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyeramkan, tapi juga tentang sesuatu yang perlahan-lahan memudar dari genggaman—tanpa bisa dicegah. Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu berarti memiliki keberanian, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan segala kecemasan. Tapi nyatanya, semakin besar cinta ini, semakin besar pula ketakutan yang mengikutinya. Takut kehilangan. Takut kau berubah. Takut aku bukan lagi rumah yang kau cari. Kini, langkahku semakin pelan. Waktu yang dulu terasa seperti alunan lembut, kini menjadi detik-detik yang menyeretku ke dalam kenyataan pahit. Aku bertanya pada bintang, pada angin, pada gelapnya malam—haruskah aku menerima bahwa kehilangan ini adalah takdir? Tapi tak ada jawaban. Hanya sunyi yang mengisi ruang di mana kau dulu berada. Dan pada akhirnya, aku harus berdamai dengan ketakutanku sendiri. Sebab kau telah pergi, dan yang tertinggal hanyalah aku… dan bayanganmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Tepi Memori

Senja itu jatuh perlahan, menggulung riuh pesta sekolah ke dalam kesunyian. Di bawah lampu-lampu temaram, langkahmu menjauh, meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar tertinggal. Kita bertengkar, kata-kata meluncur menjadi bara, tapi aku tak pernah mengira bahwa api kecil itu akan membakar segalanya. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat kau menghilang. Tak ada tanda, tak ada alasan yang bisa kupahami. Hanya angin malam yang berbisik samar, membawa aroma keraguan yang semakin menyengat. Di antara dinding sunyi, ada bayangan yang tak pernah bisa kuabaikan—kau dan dia, dalam kisah yang tak pernah kuceritakan. Aku menunggu di balik pintu rahasia, di kamar yang dulu menyimpan semua tawa kita. Namun kini, gelap menyelimuti segalanya. Bayang-bayangmu melebur bersama seseorang yang tak pernah kusebut namanya, meninggalkan aku dalam labirin kecurigaan yang terus menyala. Festival telah lama usai, namun ingatan ini tak ikut terbakar. Luka itu masih tersimpan rapi di antara kepingan...